Logo

Kelurahan Lembang

Kabupaten Bantaeng

Home

Portal Data Lembang

Inovasi Lembang

Biring kassi Online

Aplikasi Lembang

TP PKK Lembang

Facebook

Kabarmu Membasahi Kelopak Mata Kami: BAZNAS Bantaeng Hadir Menjemput Harapan di Balik Perut Kosong Seorang Bidadari Kecil

Kabarmu Membasahi Kelopak Mata Kami: BAZNAS Bantaeng Hadir Menjemput Harapan di Balik Perut Kosong Seorang Bidadari Kecil

Invalid Date

Ditulis oleh Administrator

Dilihat 190 kali

Kabarmu Membasahi Kelopak Mata Kami: BAZNAS Bantaeng Hadir Menjemput Harapan di Balik Perut Kosong Seorang Bidadari Kecil

Pagi itu berjalan seperti biasanya. Suasana kantor terasa begitu bersahabat, menenangkan, dan penuh energi positif. Langkah kaki menyusuri lorong-lorong kantor, naik dan turun tangga, terasa ringan seolah tubuh ini kembali ke masa dua puluhan—prima, segar, dan penuh semangat. Bagi saya, pagi bukan sekadar awal waktu bekerja, tetapi juga ruang untuk mensyukuri nikmat kesehatan, kesempatan, dan amanah yang masih Allah titipkan hingga hari ini.

Namun, ketenangan itu mendadak buyar. Sebuah kabar datang, sederhana dalam kalimat, tetapi dahsyat dalam rasa. Kabar dari seorang guru yang membuat kaki ini seakan lumpuh seketika. Hati terasa terhentak, dan tanpa sempat meminta izin, kelopak mata ini basah. Air mata jatuh bukan karena kelemahan, tetapi karena empati yang tak terbendung.

Kabar itu segera saya teruskan kepada Pimpinan BAZNAS Bantaeng lainnya. Pesan yang dikirim dengan jari yang bergetar, dengan hati yang menangis dan teriris. Perasaan ini hadir begitu saja, seperti refleks alami—sebuah mekanisme batin yang mungkin terbentuk dari episode-episode kehidupan masa lalu. Pada usia yang kurang lebih sama dengan adik murid SD yang dikabarkan itu, saya pun pernah merasakan hidup dengan keterbatasan yang serupa. Maka rasa itu terasa sangat dekat, sangat nyata, dan sangat personal.

Seorang adik murid SD pingsan di sekolahnya. Ia bukan pingsan karena penyakit berat, bukan pula karena kelelahan berlebihan. Penyebabnya begitu sederhana, namun menyayat nurani: perutnya kosong pagi itu. Tidak ada yang bisa dimakan sebelum berangkat sekolah. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat sarapan menjadi kemewahan yang belum tentu hadir setiap hari.

Anak itu adalah Ika Ramadhani.

Ika adalah satu dari sekian banyak anak negeri ini yang tetap tersenyum dan berangkat ke sekolah meski hidupnya dipenuhi kekurangan. Ibunya telah lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT. Ayahnya masih hidup, namun dengan berbagai keterbatasan yang membuat perjuangan hidup menjadi jauh lebih berat. Mereka tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana, bahkan bisa dibilang sempit—rumah kecil yang berdiri di sisa tanah di antara dua rumah tetangga yang lebih layak.

Ironisnya, rumah mungil itu dibangun dari hasil zakat para ASN. Sebuah bukti bahwa zakat bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi benar-benar menjelma menjadi dinding, atap, dan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan. Namun meski rumah itu berdiri, perjuangan hidup Ika dan keluarganya masih jauh dari kata mudah.

Kondisi inilah yang membuat hati kami di BAZNAS Bantaeng tak ingin menunda. Tidak ada ruang untuk menunggu. Tidak ada alasan untuk menangguhkan empati. Agenda-agenda lain di kantor kami percepat, sebagian bahkan kami tunda, demi satu tujuan: segera hadir di hadapan bidadari kecil ini.

Kami ingin ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Bahwa di balik keterbatasan yang ia jalani, ada tangan-tangan kebaikan yang siap menggenggam dan menguatkan. Ada doa-doa yang dipanjatkan khusus untuknya. Ada harapan yang ingin dititipkan agar langkah kecilnya tak pernah berhenti menjemput masa depan.

Ika Ramadhani, nama yang sederhana namun sarat makna. Kami berdoa semoga Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik dalam setiap episode kehidupannya. Semoga Allah mengganti setiap air mata dengan kekuatan, setiap kekosongan dengan kecukupan, dan setiap keterbatasan dengan jalan-jalan kebaikan yang tak terduga.

Kami juga berharap, suatu hari kelak, Ika tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berilmu, dan berakhlak. Menjadi anak yang tidak hanya berhasil untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu memberi manfaat bagi orang lain. Menjadi muzaki dan munfiq—orang yang kelak memiliki kemampuan untuk berzakat dan berinfak, mengikuti jejak kebaikan para ASN, masyarakat, dan para pengusaha yang hari ini dengan ikhlas menunaikan zakat, infak, dan sedekahnya.

Karena hari ini, buah dari keikhlasan mereka telah mengalir ke dalam kehidupan Ika. Mengalir dalam bentuk perhatian, bantuan, dan kepedulian. Mengalir sebagai bukti bahwa kebaikan tidak pernah salah alamat.

Memang, bantuan yang kami bawa hari itu tidaklah besar. Hanya kebutuhan pokok sehari-hari dan sedikit uang jajan. Namun kami percaya, nilai sebuah bantuan tidak diukur dari besar kecilnya materi, melainkan dari ketulusan yang menyertainya. Dan lebih dari itu, kami membawa doa yang tulus. Kami membawa harapan. Kami membawa motivasi agar bidadari kecil di rumah sederhana itu kelak tumbuh menjadi cahaya, mutiara, dan emas bagi keluarganya.

Ika Ramadhani, teruslah melangkah. Teruslah belajar. Teruslah bermimpi. Karena di balik setiap langkah kecilmu, ada doa yang mengiringi. Dan di balik setiap keterbatasanmu, Allah telah menyiapkan jalan kebaikan yang luas, indah, dan penuh harapan

Bagikan:

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Logo

Kelurahan Lembang

Kecamatan Bantaeng

Kabupaten Bantaeng

Provinsi Sulawesi Selatan

© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia