Logo

Kelurahan Lembang

Kabupaten Bantaeng

Home

Portal Data Lembang

Inovasi Lembang

Biring kassi Online

Aplikasi Lembang

TP PKK Lembang

Facebook

Lagi dan Lagi, Rabu Pagi 4 Maret 2026: RW Sungai Bialo Ahmad Syamsir Las Sendiri Tiang Penerangan dari Besi Galvanis, Limbah Bohlam Disulap Jadi Cahaya Harapan!

Lagi dan Lagi, Rabu Pagi 4 Maret 2026: RW Sungai Bialo Ahmad Syamsir Las Sendiri Tiang Penerangan dari Besi Galvanis, Limbah Bohlam Disulap Jadi Cahaya Harapan!

Invalid Date

Ditulis oleh Administrator

Dilihat 236 kali

Lagi dan Lagi, Rabu Pagi 4 Maret 2026: RW Sungai Bialo Ahmad Syamsir Las Sendiri Tiang Penerangan dari Besi Galvanis, Limbah Bohlam Disulap Jadi Cahaya Harapan!

Rabu pagi, 4 Maret 2026, suasana di wilayah Sungai Bialo, Kelurahan Lembang, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng kembali diwarnai semangat gotong royong dan aksi nyata tanpa banyak bicara. Sosok yang sudah tidak asing lagi bagi warga, Ketua RW Sungai Bialo, Ahmad Syamsir, kembali menunjukkan dedikasinya untuk lingkungan. Lagi dan lagi, ia tak menunggu anggaran turun, tak menunggu bantuan besar datang, tetapi bergerak dengan tangannya sendiri.

Di halaman rumahnya yang sederhana, suara mesin las terdengar sejak pagi. Percikan api kecil menyala dari besi galvanis yang sedang ia sambung satu per satu. Besi-besi itu bukan sekadar rangka logam biasa, melainkan calon tiang dan dudukan penerangan jalan yang akan dipasang di beberapa titik wilayahnya. Dengan penuh ketelitian, Ahmad Syamsir mengukur, memotong, lalu mengelas setiap bagian agar kokoh dan tahan lama.

Bahan yang digunakan pun bukan sembarangan. Ia memilih besi galvanis karena lebih tahan karat dan kuat menghadapi cuaca pesisir yang lembap dan berangin. Sebagaimana diketahui, wilayah Sungai Bialo cukup dekat dengan kawasan pesisir, sehingga peralatan luar ruang harus benar-benar diperhatikan kualitasnya. Ahmad Syamsir memahami betul hal ini. Baginya, membuat sekali harus tahan lama.

Tak hanya membuat rangka baru, ia juga memanfaatkan limbah bohlam lampu yang sebelumnya telah diperbaiki. Bohlam-bohlam itu adalah hasil pengumpulan dari lampu rusak yang masih bisa diselamatkan. Dengan ketelatenan dan sedikit keahlian teknis, ia memperbaiki bagian yang masih memungkinkan untuk digunakan kembali. Prinsipnya sederhana: selama masih bisa diperbaiki, kenapa harus dibuang?

Langkah ini bukan hanya soal penghematan anggaran, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Limbah bohlam yang biasanya berakhir di tempat sampah kini disulap menjadi sumber cahaya bagi warga. Inovasi sederhana namun berdampak besar.

Namun perjuangan tak dilakukan sendirian. Sebelum mulai mengerjakan, Ahmad Syamsir terlebih dahulu berkoordinasi dengan warga di wilayahnya. Ia mengumpulkan beberapa tokoh masyarakat dan warga setempat untuk berdiskusi mengenai titik-titik yang masih minim penerangan. Dari hasil musyawarah kecil itu, disepakati beberapa lokasi prioritas yang membutuhkan tambahan lampu jalan.

Koordinasi ini menjadi kunci. Warga merasa dilibatkan, didengar, dan dihargai pendapatnya. Tidak ada kesan keputusan sepihak. Semua berjalan atas dasar kebersamaan.

Alhamdulillah, niat baik itu mendapat sambutan positif. Beberapa warga yang mengetahui kegiatan tersebut tergerak hatinya untuk ikut berkontribusi. Ada yang menyumbangkan pembelian kabel, ada pula yang membantu membelikan bohlam lampu baru. Bantuan itu mungkin terlihat sederhana, namun maknanya luar biasa. Ini adalah bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup dan nyata.

“Kalau bukan kita yang peduli lingkungan sendiri, siapa lagi?” kira-kira itulah semangat yang tercermin dari aksi tersebut.

Bagi warga Sungai Bialo, sosok Ahmad Syamsir bukan sekadar Ketua RW. Ia adalah motor penggerak. Ia memberi contoh bahwa pemimpin tidak hanya duduk di balik meja, tetapi turun langsung bekerja. Mengelas sendiri, memasang sendiri, bahkan memperbaiki sendiri.

Kegiatan ini bukan pertama kali dilakukan. Sebelumnya, ia juga telah beberapa kali membuat dan memperbaiki penerangan jalan secara swadaya. Karena itu, warga pun tak lagi heran melihat percikan api las di halaman rumahnya. Justru, mereka merasa bangga.

Penerangan jalan bukan sekadar lampu yang menyala di malam hari. Ia adalah simbol keamanan dan kenyamanan. Dengan adanya lampu jalan yang memadai, aktivitas warga di malam hari menjadi lebih aman. Anak-anak yang mengaji, warga yang pulang kerja, hingga pedagang kecil yang masih berjualan di malam hari merasa lebih tenang.

Terlebih lagi, di bulan Ramadhan seperti saat ini, aktivitas malam hari meningkat. Warga berangkat ke masjid untuk salat tarawih, tadarus, hingga sahur bersama. Penerangan yang cukup menjadi kebutuhan penting. Ahmad Syamsir memahami momen tersebut. Maka tak heran jika ia semakin bersemangat menyelesaikan rangka penerangan jalan itu sebelum malam tiba.

Di tengah keterbatasan, semangat tak pernah surut. Tidak ada keluhan, tidak ada sorotan berlebihan. Semua dilakukan dengan niat ibadah dan kepedulian terhadap sesama. Baginya, jabatan adalah amanah, dan amanah harus dijalankan dengan kerja nyata.

Apa yang dilakukan RW Sungai Bialo ini menjadi contoh konkret bagaimana pembangunan bisa dimulai dari lingkungan terkecil. Tidak harus menunggu proyek besar. Tidak harus menunggu dana miliaran. Cukup dengan kemauan, kreativitas, dan kebersamaan.

Besi galvanis yang dilas pagi itu bukan hanya menyatukan potongan logam, tetapi juga menyatukan semangat warga. Bohlam bekas yang diperbaiki bukan hanya memancarkan cahaya, tetapi juga harapan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil.

Semoga langkah sederhana ini menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Bahwa kepedulian tidak mengenal waktu. Bahwa lagi dan lagi, selama masih ada niat baik, selalu ada jalan untuk berbuat.

Mantap RW Sungai Bialo! Terus bergerak, terus berkarya, dan terus menjadi cahaya bagi lingkungan sekitar.

Bagikan:

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Logo

Kelurahan Lembang

Kecamatan Bantaeng

Kabupaten Bantaeng

Provinsi Sulawesi Selatan

© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia