Logo

Kelurahan Lembang

Kabupaten Bantaeng

Home

Portal Data Lembang

Inovasi Lembang

Biring kassi Online

Aplikasi Lembang

TP PKK Lembang

Facebook

Legenda Rasa Sejak 1999: Cendol dan Tape HJ Capo, Ikon Kuliner di Belakang Stadion Mini Lamalaka yang Tak Pernah Padam

Legenda Rasa Sejak 1999: Cendol dan Tape HJ Capo, Ikon Kuliner di Belakang Stadion Mini Lamalaka -Kelurahan Lembang yang Tak Pernah Padam

Invalid Date

Ditulis oleh Administrator

Dilihat 305 kali

Legenda Rasa Sejak 1999: Cendol dan Tape HJ Capo, Ikon Kuliner di Belakang Stadion Mini Lamalaka yang Tak Pernah Padam

Sejak tahun 1999, di sudut sederhana belakang Stadion Mini Lamalaka, tepatnya di Kelurahan Lembang, Kecamatan Bantaeng, berdiri sebuah kios kecil yang menyimpan rasa besar dan kenangan panjang bagi warga. Di sanalah HJ Capo—yang akrab disapa masyarakat sebagai “Haji Capo”—memulai perjalanan panjangnya berjualan cendol dan tape. Tak terasa, kini ia telah berjualan selama 27 tahun sejak 1999 hingga sekarang, tetap eksis, tetap dicintai, dan tetap menjadi pilihan utama warga.

Dua puluh tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Sejak 1999 hingga 2026 ini, HJ Capo setia menjaga cita rasa yang sama. Ia melewati berbagai perubahan zaman, dari masa ketika stadion masih ramai oleh pertandingan lokal sederhana, hingga kini ketika banyak minuman modern bermunculan dengan konsep kekinian. Namun, cendol dan tape racikannya tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Kios kecil yang berdiri di depan stadion mini itu mungkin tampak sederhana. Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada papan reklame besar. Hanya bangunan kecil yang berdiri kokoh menjadi saksi perjalanan 27 tahun pengabdian seorang pedagang kepada pelanggannya. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir kekuatan rasa yang tak pernah berubah.

Cendol HJ Capo dibuat dari beras ketan pilihan, diolah secara tradisional hingga menghasilkan tekstur lembut dan kenyal. Warna hijaunya menggoda, berpadu dengan santan segar yang gurih dan gula merah cair yang manis alami. Setiap gelas diracik dengan penuh ketelitian, memastikan kualitas tetap terjaga seperti saat pertama kali dijual pada tahun 1999.

Selain cendol, tape yang dijual pun tak kalah istimewa. Tape manis legit dengan aroma fermentasi yang pas menjadi pelengkap yang sempurna. Banyak pelanggan yang selalu membeli keduanya sekaligus, karena sudah menjadi paket kenangan yang tak terpisahkan.

Selama 27 tahun berjualan, HJ Capo telah menyaksikan generasi demi generasi datang dan pergi. Anak-anak sekolah yang dulu jajan sepulang bermain bola di stadion, kini telah menjadi orang tua yang membawa anak-anak mereka untuk merasakan cendol yang sama. Inilah bukti bahwa rasa yang konsisten mampu melampaui waktu.

Lokasinya yang strategis di belakang stadion membuat kios ini selalu ramai, terutama pada sore hari. Ketika aktivitas olahraga berlangsung, banyak warga menyempatkan diri mampir. Bahkan mereka yang hanya lewat pun sering tergoda untuk berhenti sejenak, membeli segelas cendol segar untuk melepas dahaga.

Memasuki bulan Ramadan, suasana di sekitar kios menjadi lebih hidup. Menjelang waktu berbuka, antrean mulai terbentuk. Aroma santan dan gula merah yang khas seakan menjadi tanda bahwa waktu berbuka semakin dekat. Selama 27 tahun, Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi HJ Capo dan para pelanggannya.

Banyak keluarga yang menjadikan cendol HJ Capo sebagai menu wajib berbuka puasa. Bahkan ada yang memborong dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Tradisi kecil ini terus terjaga dari tahun ke tahun, menjadi bagian dari cerita Ramadan warga Kelurahan Lembang.

Keberhasilan bertahan selama 27 tahun tentu bukan hal yang mudah. Konsistensi, kejujuran, dan pelayanan ramah menjadi kunci utama. HJ Capo selalu menjaga kualitas bahan baku, memastikan kebersihan, serta melayani pelanggan dengan senyum yang tulus. Baginya, berdagang adalah tentang kepercayaan dan keberkahan.

Di tengah maraknya minuman modern dengan berbagai variasi topping dan kemasan menarik, cendol HJ Capo tetap berdiri dengan gaya klasiknya. Tanpa promosi besar-besaran di media sosial, namanya tetap dikenal luas. Reputasi yang dibangun sejak 1999 menjadi fondasi kokoh yang membuatnya bertahan hingga 27 tahun lamanya.

Kini, setelah hampir tiga dekade, kios kecil itu bukan sekadar tempat berjualan. Ia telah menjadi ikon kuliner lokal, simbol ketekunan, dan bukti bahwa usaha kecil pun bisa menjadi legenda. Setiap gelas cendol yang disajikan seakan membawa cerita panjang perjalanan hidup dan perjuangan.

Warga Bantaeng patut berbangga memiliki kuliner legendaris seperti ini. Di tengah arus modernisasi, keberadaan cendol dan tape HJ Capo menjadi pengingat bahwa cita rasa tradisional tetap memiliki tempat istimewa.

Ramadan tahun ini menjadi momen yang tepat untuk kembali merasakan kelezatan yang telah menemani warga selama 27 tahun. Duduk santai di sore hari, menunggu azan Magrib berkumandang, sambil menikmati segelas cendol beras ketan racikan HJ Capo—itulah kebahagiaan sederhana yang tak ternilai.

Ayo warga Bantaeng, mari kita dukung dan lestarikan kuliner lokal kebanggaan kita. Datanglah ke belakang Stadion Mini Lamalaka, Kelurahan Lembang. Rasakan sendiri sensasi segar dan manisnya cendol legend yang telah berjualan 27 tahun sejak 1999 hingga sekarang.

Karena di setiap tegukan cendol HJ Capo, tersimpan rasa, sejarah, perjuangan, dan cinta yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Bagikan:

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Logo

Kelurahan Lembang

Kecamatan Bantaeng

Kabupaten Bantaeng

Provinsi Sulawesi Selatan

© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia